Lewati ke konten utama
PakarStifin

Anak Susah Disuruh Belajar? Mungkin Cara Belajarnya yang Belum Ketemu

Sebelum menyimpulkan anak malas, ada baiknya menengok satu kemungkinan lain: metode belajar yang dipakai memang tidak cocok dengan cara kerja kepalanya.

Oleh Tim Redaksi4 menit baca
Bagikan
Anak Susah Disuruh Belajar? Mungkin Cara Belajarnya yang Belum Ketemu
Daftar isi

Jam tujuh malam, buku sudah terbuka, tetapi tubuh anak seperti punya rencana lain. Ia bolak-balik ke dapur, tiba-tiba haus, tiba-tiba ingat ada tugas lain. Orang tua menahan kesal, lalu keluarlah kalimat yang sebenarnya tidak ingin diucapkan: "Kamu ini memang malas."

Sebelum kesimpulan itu diambil, ada baiknya menguji satu kemungkinan lain yang lebih sering benar daripada yang kita kira: metode belajarnya memang tidak cocok. Anak tidak sedang menolak ilmunya, ia sedang menolak caranya.

Gaya belajar berbeda menurut mesin kecerdasan

Berikut gambaran umum yang biasa kami pakai sebagai titik awal, bukan sebagai aturan mati.

  • Sensing. Belajar paling kuat lewat pengulangan, latihan soal, dan hafalan bertahap. Butuh jadwal tetap dan target yang jelas.
  • Thinking. Butuh alasan dan struktur. Materi yang disusun dalam kerangka logis lebih cepat masuk daripada perintah menghafal.
  • Intuiting. Cepat bosan pada pengulangan, tetapi hidup ketika materi dikaitkan dengan gambaran besar atau tantangan mencipta.
  • Feeling. Sangat dipengaruhi hubungan dengan pengajar dan suasana. Belajar bersama teman biasanya jauh lebih efektif daripada sendirian.
  • Insting. Nyaman belajar dalam suasana tenang tanpa tekanan, dan sering perlu dibantu memecah materi menjadi bagian kecil.

Menguji, bukan menebak

Cara paling meyakinkan bukan membaca teori, melainkan mencobanya selama dua minggu dan mencatat hasilnya. Ambil satu mata pelajaran yang paling sering menjadi sumber pertengkaran, lalu ubah satu variabel saja.

  1. Pecah waktu belajar menjadi blok dua puluh lima menit dengan jeda pendek, lalu lihat apakah keluhan berkurang.
  2. Ganti membaca dalam hati menjadi menjelaskan ulang secara lisan kepada orang tua atau saudara.
  3. Ubah urutan: kerjakan soal lebih dulu, baru baca teorinya bila macet.
  4. Pindahkan jam belajar dari malam ke sore atau sebaliknya, sesuai kapan anak terlihat paling segar.
  5. Catat hasilnya dalam tabel sederhana: berapa lama ia bertahan, dan seberapa besar drama yang menyertainya.
Anak yang berhenti merasa bodoh biasanya mulai berani mencoba, dan anak yang berani mencoba akan belajar lebih banyak daripada anak yang dipaksa duduk diam.

Menata meja dan jam, bukan hanya niat

Sebelum berbicara soal motivasi, ada baiknya membereskan hal-hal yang sepenuhnya berada dalam kendali orang tua. Banyak kesulitan belajar ternyata lahir dari lingkungan yang tidak mendukung, bukan dari kemauan anak.

Perhatikan tiga hal berikut di rumah Anda. Pertama, letak meja belajar. Meja yang menghadap televisi atau berada di jalur lalu lalang keluarga hampir mustahil dipakai berkonsentrasi, apa pun mesin kecerdasan anaknya. Kedua, keberadaan ponsel. Ponsel yang tergeletak di meja tetap mengganggu meski layarnya mati, karena sebagian perhatian tetap tersedot untuk menahan diri. Ketiga, jam belajar yang bertabrakan dengan jam paling melelahkan dalam sehari.

Setelah ketiganya dibereskan, barulah adil menilai apakah anak benar-benar kesulitan atau sekadar ditempatkan pada kondisi yang menyulitkan. Dalam banyak kasus yang kami temui, perbaikan lingkungan saja sudah menghilangkan separuh drama tanpa perlu ceramah panjang.

Satu hal lagi yang sering membantu: temani tanpa mengawasi. Duduk di ruangan yang sama sambil mengerjakan urusan Anda sendiri memberi rasa ditemani tanpa membuat anak merasa sedang diperiksa. Banyak anak bertahan lebih lama hanya karena tahu ada orang tuanya di dekat situ.

Empat sumber masalah yang sering tertukar

Supaya adil, tidak semua kesulitan belajar berasal dari ketidakcocokan metode. Ada beberapa penyebab lain yang perlu dipisahkan lebih dulu.

  • Kelelahan. Jadwal les yang menumpuk membuat anak kehabisan tenaga sebelum sampai di meja belajar.
  • Masalah sosial di sekolah. Anak yang sedang bermasalah dengan temannya sering kehilangan minat pada seluruh mata pelajaran.
  • Fondasi yang bolong. Ia tidak bisa mengerjakan soal kelas enam karena konsep kelas empatnya belum tuntas.
  • Kebutuhan khusus. Bila ada dugaan hambatan belajar tertentu, tempatnya di tenaga profesional yang berwenang, bukan di tes potensi.

Mesin kecerdasan membantu pada bagian metode. Ia tidak menggantikan pemeriksaan yang memang menjadi ranah ahli lain, dan penting bagi orang tua untuk tidak mencampuradukkan keduanya.

Peran orang tua yang paling menentukan

Dalam banyak kasus, perubahan terbesar bukan datang dari anak melainkan dari suasana yang diciptakan orang tuanya. Anak yang belajar sambil menunggu ledakan emosi akan menghabiskan sebagian energinya untuk waspada, bukan untuk memahami materi.

Karena itu, perbaikan pertama sering kali sesederhana ini: turunkan suara, duduk sebentar di sampingnya, dan mulai dengan pertanyaan "bagian mana yang paling bikin pusing?" Pertanyaan itu memberi anak kesempatan menjelaskan, dan dari penjelasannya Anda sering menemukan akar masalah yang selama ini tidak terlihat.

Bila setelah beberapa minggu mencoba hasilnya masih buntu, membawa persoalan ini ke sesi konsultasi bisa menghemat banyak waktu. Sering kali yang dibutuhkan hanya dua atau tiga penyesuaian teknis yang tidak terpikirkan ketika kita sedang lelah menghadapinya sendiri.

  • gaya belajar
  • anak
  • sekolah

Bagikan

Kenali mesin kecerdasan keluarga Anda

Satu kali tes, panduan seumur hidup untuk belajar, berkarier, dan mendidik anak.

Artikel terkait