Lewati ke konten utama
PakarStifin

Liputan Workshop Guru: Ketika Satu Kelas Berisi Lima Cara Berpikir

Empat puluh dua guru dari sembilan sekolah berkumpul sehari penuh untuk membahas satu pertanyaan sederhana: bagaimana mengajar kelas yang isinya tidak seragam.

Oleh Tim Redaksi3 menit baca
Bagikan
Liputan Workshop Guru: Ketika Satu Kelas Berisi Lima Cara Berpikir
Daftar isi

Ruangan itu penuh sejak pukul delapan pagi. Empat puluh dua guru dari sembilan sekolah di Semarang dan sekitarnya hadir dalam workshop bertema pengajaran yang responsif terhadap perbedaan cara berpikir siswa. Sebagian datang atas penugasan sekolah, sebagian datang atas inisiatif sendiri, dan hampir semuanya membawa satu keluhan yang sama.

Keluhan itu berbunyi kurang lebih begini: metode yang berhasil untuk sebagian siswa tampak tidak berpengaruh sama sekali bagi sebagian lainnya, dan guru kehabisan waktu untuk melayani semuanya.

Sesi pagi: membongkar asumsi

Sesi pertama dibuka dengan latihan sederhana. Peserta diminta menuliskan satu siswa yang paling sulit mereka tangani, lalu menuliskan tebakan mereka tentang penyebabnya. Sebagian besar jawaban menunjuk pada motivasi dan dukungan keluarga.

Setelah materi tentang lima mesin kecerdasan disampaikan, peserta diminta membaca ulang catatan mereka. Banyak yang mulai menyadari kemungkinan lain: sebagian siswa yang dianggap tidak termotivasi ternyata sedang diminta belajar dengan cara yang paling tidak cocok baginya.

Sesi siang: merombak satu rencana pelajaran

Bagian yang paling ramai justru sesi praktik. Setiap kelompok diminta mengambil satu rencana pelajaran yang sudah mereka pakai, lalu merombaknya agar memberi minimal tiga jalur masuk berbeda ke materi yang sama.

  • Jalur latihan dan pengulangan untuk siswa yang kuat pada hal konkret.
  • Jalur penalaran dan struktur bagi siswa yang menuntut alasan sebelum bergerak.
  • Jalur proyek dan eksplorasi bagi siswa yang cepat bosan pada pola berulang.
  • Jalur diskusi kelompok bagi siswa yang paling hidup dalam interaksi.

Hasilnya menarik. Beberapa guru menemukan bahwa rombakan yang diperlukan jauh lebih kecil dari yang mereka bayangkan; sering kali cukup mengubah urutan kegiatan dan menambah satu pilihan bentuk tugas.

Yang paling melegakan bagi saya adalah menyadari bahwa saya tidak perlu membuat lima rencana pelajaran. Saya hanya perlu membuka lebih banyak pintu ke ruangan yang sama.

Kutipan di atas datang dari salah satu peserta, seorang guru matematika yang telah mengajar selama tujuh belas tahun.

Suasana di sela acara

Bagian yang tidak masuk susunan acara sering kali sama berharganya. Saat rehat, beberapa guru dari sekolah berbeda bertukar cerita tentang siswa yang mirip, lalu menyadari bahwa mereka selama ini menangani persoalan serupa dengan sendiri-sendiri.

Seorang guru seni dari sebuah sekolah swasta bercerita bahwa ia sering dianggap terlalu lunak karena membiarkan siswa menyelesaikan tugas dengan bentuk berbeda-beda. Setelah sesi pagi, beberapa rekan dari sekolah lain justru meminta contoh format penilaiannya. Percakapan seperti ini yang membuat kegiatan tatap muka sulit digantikan sesi daring.

Panitia juga mencatat satu hal yang berulang dari umpan balik tertulis peserta: permintaan agar durasi praktik ditambah dan durasi ceramah dikurangi. Masukan ini akan dipakai untuk menyusun format kegiatan berikutnya, dengan porsi kerja kelompok yang lebih besar.

  • Empat puluh dua peserta dari sembilan sekolah, dengan rentang pengalaman mengajar dua sampai dua puluh delapan tahun.
  • Tiga puluh tujuh peserta mengisi umpan balik tertulis di akhir acara.
  • Mayoritas meminta sesi lanjutan dengan fokus pada penilaian dan pelaporan kepada orang tua.

Catatan dari diskusi penutup

  1. Guru meminta bentuk laporan yang lebih ringkas agar bisa dipakai saat pertemuan dengan orang tua.
  2. Beberapa sekolah tertarik mengadakan sesi lanjutan khusus wali kelas.
  3. Muncul usulan agar materi diberikan juga kepada guru bimbingan konseling secara terpisah.
  4. Peserta menekankan pentingnya menghindari pelabelan siswa, dan sesi khusus tentang hal ini diminta ditambahkan.

Batas yang ditegaskan sejak awal

Fasilitator menegaskan beberapa hal di sesi penutup. Pemetaan mesin kecerdasan bukan alat penilaian kemampuan siswa, bukan pengganti asesmen akademik, dan sama sekali bukan alat diagnosis. Jika ada dugaan hambatan belajar tertentu, jalur yang benar tetap melalui tenaga profesional yang berwenang.

Penegasan ini disambut baik, terutama oleh guru bimbingan konseling yang hadir. Beberapa dari mereka menyampaikan pengalaman menghadapi orang tua yang menafsirkan hasil tes secara berlebihan, dan sepakat bahwa penjelasan batas seperti ini perlu diulang di setiap kegiatan.

Langkah berikutnya

Tim PakarStifin membuka kesempatan bagi sekolah lain yang ingin mengadakan workshop serupa di lingkungannya. Bentuknya bisa disesuaikan, mulai dari sesi berbagi dua jam untuk seluruh guru sampai program pendampingan satu semester untuk wali kelas dan guru bimbingan konseling.

Bagi sekolah yang berminat, silakan menghubungi tim kami untuk membicarakan bentuk kegiatan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kalender akademik sekolah Anda.

  • workshop
  • guru
  • liputan

Bagikan

Agenda

Daftar Acara Ini

Nama acara
Tes STIFIn Personal — Sesi Rabu Siang
Waktu
Minggu, 9 Agustus 2026 · 13.00
Lokasi
Kantor PakarStifin Semarang, Semarang
Sisa kursi
10

Kenali mesin kecerdasan keluarga Anda

Satu kali tes, panduan seumur hidup untuk belajar, berkarier, dan mendidik anak.

Artikel terkait